Pangeran suryananta
Dianggap gaib ke Gunung pematon
Nama suryananta juga cukup terkenal di Kalimantan selatan . Ada beberapa nama lembaga dan kesatuan yang diberi nama Suryananta , ada Resimen Mahasiswa Suryananta dan lain-lain. Juga ada orang yang menamai anak nya dengan suryananta.
Sepintas lalu nama ini adalah nama yang berasal dari Jawa sebab orang banjar tidak bisa menamai anaknya demikian . Ternyata memang benar , Suryananta berasal dari Jawa. Tetapi ia menjadi Raja Bajar pertama di Negara Dipa . Dialah yang menurrunkan raja-raja dn sultan-sultan Banjar selanjutnya.
Beberapa Mitos
Yudi Yusmili (2011) mengemukakan berbagai pendapat mengenai cerita kehidupan Suryananta yang dipenuhi . Versi Hikayat Lembu Mangkurat (Lambung Mangkurat) menyebutkan   Raden Putra lahir  hasil pertapaan (tapabrata) Ratu Majapahit.
Amir Hasan Bondan dan Suluh Sedjarah Kalimantan menulis: Tersebut cerita Ratu Majapahit bertapa dan mendapat dala perrtapaannya itu seorang anak laki-laki, yang terbungkus seluruh batang tubuhya dengan semacam kulit yang tipis. Menurut suara gaib yang didengarnya waktu bertapa,bahwa bungkusan anak itu tidak boleh diganggu, cuma dipelihara saja baik-baik. Negeri Majapahit kelak akan bertambah makmur. Anak yang terbungkus itu dinamai Raden putra.
Patih Lambung Mangkurat dalam cerita kemudian pergi berlayar dengan banawa (kapal layar) Si Prabayaksa ke Majapahit untuk meminta Raden Putra kepada Raja Majapahit. Raden Putra (Pangeran Suryanata) akhirnya berjodoh dengan Putri Junjung Buih. Dari perkawinan mereka lahir Raden Suryaganggawangsa (Suria Gangga Wangsa) dan Raden Suryawangsa (Suria Wangsa). Amir Hasan Bondan menyebutkan tarikh pemerintahan Suryanata 1438-1460.
Pangeran Suryanata (Raden Putra, Surianata, Ariya Anta, Surya Cipta) adalah suami raja putri (Ratu) Junjung Buih (Galuh Cipta Sari, Putri Tanjung Buih). Ketika menjadi raja Banjar di kerajaan Negara Dipa, ia mendapat sebutan maharaja Suryanata. Daerah kekuasaanya selain Kaliamtan Selaatan yang ada sekarang juga mencakup Sukadana,Sanggau, Batang Lawai,Karasikan, Kotawaringin, Kutai dan Berau , atau hampir mencakup wilayah empat provinsi Kalimantan sekarang .
  Sementara Anggraini Antemas dalam Orang-orang Terkemuka dalam Sedjarah Kalimantan, menulis pertemuan Raden Putra dengan Putri Jujung Buih terjadi sekitar tahun 1300. Junjung Buih, diperkirakan lahir tahun 1280. Setelah kedua anaknya tumbuh dewasa tahta kemudian diserahkan kepada putra sulung Pangeran Surya Ganggawangsa dan tak lamasetelah itu Suryanata dan Junjung Buih meninggal dunia. Anggraini menyatakan, tanggal berapa dan tahun berapa , serta diamana jenazahnya dimakamkan, hingga kini tiada seorang pun yang mengetahui. Hanya berdasarkan penyekidikan sejarah , peristiwa tersebut diperkirakan terjadi dalam tahun 1360. Karena kematiannya tidak terkubur , maka sebagian masyarakat Banjar beranggapan bahwa raja dan permaisuri tersebut gaib.
Di dalam Hikayat Bandjar dikemukakan beberapa versi tentang Suryanata. Ada versi menyatakan, dia bukan putra dari Majapahit, melainkan adalah penjelmaan kembali (reinkarnasi) dua bersaudara kembar siam putra Mandastana yitu Sukmaraga dan Padmaraga yang dibunuh oleh Lambung Mangkurat . jika versi ini diakui maka pembunuhan tersesbut bukan sesuatu yang keji, sebab akan mengangkat derajat kedua putra kembar tersebut ke derajat yang lebih tinggi. Hal ini mungkin disamakan dengan mitos seseorang yang membunuh ular siluman (karena kutukan) , ternyata dengan cara membunuh itu sang ular berubah menjadi seorang pemuda yaang tampan.
  Tetapi cerita ini agak bertentangan dengan kesedihan Mpu Mandastana yang bersama istrinya kemudian bunuh diri karena  sakit hati kedua putra kesayangannya dibunuh oelh Lambung Mangkurat . kalau putranya itu akan menjelma menjadi Suryanata, tentu mereka berdua tidak perlu sakit hati dan bunuh diri.
Diceritakan pula bahwa Suryanata seorang yang jawara dan ssakti. Mengingat kecantikan Junjung Buih maka setelah berada di tangan Suryanata pun masih banyak pemuda lain yang berebut ingin mengawininya. Sebanyak 39 orang pemuda yang merupakan anak raja-raja di luar Negara dipa yang ingin merebutnya dari Suryanata. Salah seorang anak raja tersebut, yaitu Raden Sinar Banyu berhasil menculiknya. Tetapi dalam sebuah pertempuran terakhir Suryanata berhasil merebutnya kembali. Raden Sinar Banyu dan para pemuda lainnya menyerah kalah, dan mereka semua bersedia membayar upeti kepada Negara Dipa.
Cerita begini agak mirip dengan kisah Ramayana, di mana Sri Rama dari Ayodhya yang sakti berhasil merebut istrinya Dewi Sinta yang sangat cantik dari penculikan Rahwana Dasamuka dari Alengka. Dewi Sinta sempat berada dalam tangan Rahwana. Guna memastikan bahwa Dewa Sinta masih suci, maka dia disuruh terjun ke dalam kobaran api, dan ternyata selamat. Maka Sri Rama pun berkenan menerimanya kembali.
Hari terakhir pemerintahan Pangeran Suryanata diungkapkan Amir Hasan Bondan sebagai berikut : pada suatu hari Pangeran Suryanata mengadakan karasmin (keramian) luar biasa serta menjamu sekalian raja-raja dan patih-patih dan rakyat dalam negeri. Tatkala orang banyak sedang asyik dan ramai bersenda gurau, tiba-tiba pangeran Suryanata berbicara di tengah orang banyak. Menerangkan bahwa baginda akan pulang ke tempat lama (di Kayangan). Setelah memperingatkan dan menyampaikan pesan-pesan , dan setelah habis berbicara, dengan sekejap gaiblah Pangeran Suryanata bersama Putri Junjung Buih.
Pangeran Suryanata pendiri dinasti Negara Dipa yang sangat masyhur itu hingga saat ini tak diketahui keberadaan makamnya. Bahkan di sebagian kalangan masyarakat Banjar percaya bahwa Pangeran Suryanata tidak meninggal dunia tapi  gaib (berpindah alam). Pangeran Suryanata gaib bersama istrinya Putri Junjung Buih ke Gunung Pamaton.

Gunung Pematon
Wikipedia mnerangkan, Gunung Pematon adalah gunung yang terdapat di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar. Pematon berasal dari kata ‘pamutan’ dalam bahasa Banjar yang artinya tempat memut penumpang barang karena gunung tersebut diibaratkan sebagai tempat berlabuh. Memang kebanyakan penamaan tempat di Kalsel berasal dari kosakata atau hal-hal yang berhubungan  dengan sungai atau laut. Gunug Pematon dianggap gunung yang keramat bagi suku Banjar.
Di masa Perang Banjar kawasan Gunung Pematon juga dijadikan markas pertahanan oleh para pejuang. Pangeran Hidayat juga pernah bermarkas di gunug ini. Hanya sedikit tentara Belanda yang berani mendekati gunung ini, sementara tentara pribumi tidak ada yang berani karena mereka takut terkena “kualat” . akibatnya penyerangan Belanda tidak pernah berhasil sebab tidak didukung oleh tentara pribumi atau tentara bayaran lainnya.
Selama ini kawasan Gunung Pematon sering dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa mistik. Konon menurut mitos , di sana merupakan tempat bersemayamnya para tokoh kerajaan Banjar seperti pangeran Suryanata dalam wujud makhluk gaib. Konon disana masih sering terdengar bunyi-bunyian dan keramaian dengan beragam permainan yang hidup di masa Banjar pra Islam.
Sekarang, bagi para pecinta wisata alam bebas, kawasan Gunung Pematon di Kabupaten Banjar mennjadi alternatif pilihan. Alamnya masih perawan dan berhawa sejuk . apalagi untuk mencapai lokasi ini tidak terlalu sulit . medannya relatif mudah dijangkau baik dengan kendaraan roda  empat maupun roda dua. Dari kota Martapura hanya memakan waktu satu jam.
Sultan Banjar H.Khairul Saleh telah membangun sebuah prasasti di Gunung Pematon yang diresmikan padaa tanggal 7 Desember 2011 lalu. Peresmian disaksikan antara lain oleh HM Said (mantanGubernur Kalsel) dan Pangeran H Rusdi Effendi AR serta sejumlah budayawan. Ahmad Barji B (penulis buku TOKOH BANJAR DALAM SEJARAH) bersama rombongan di antaranya budayawan Adjim Arijadi ikut menuju Gunung Pematon saat peresmian prasastitersebut guna melihat keadaan disana . namun mereka tersesat di tengah jalan sebelum sampai ke lereng dan puncak gunung di mana prasasti itu berada.
Versi lain menyatakan, Pangeran Suryanata tidak gaib, melainkan memiliki makam di negeri Cina , atau sebuah kawasan di Kalimantan yang ditulis dengan bahasa Cina. Makam tersebut terletak di Setjekang dalam desa  Tje-Sin di luar kota Tjunghua Men. Tertanda wafat tanggal 19 Oktober 1408 M (1 bulan ke-10 pada Dinasti Ming).
Menurut Yudi Yusmili, apakah keterangan nama tempat “Setjekang dalam desa Tje-Sin terletak di luar kota Tjunghua Men” berada di negeri Cina, atau sebutan suatau nama daerah di Kalimantan tetapi dalam bahasa Cina perlu penelitian lebih lanjut.
Mana diantara cerita di atas yang benar, wallahu a’lam. Yang jelas Suryanata dipecaya sebagai raja Banjar pertama di Negara Dipa dan dilah yang menurunkan Raja-raja Banjar selanjutnya. Selama hidup suami istri Suryanata dengan Junjung Buih dikaruniai tiga orang anak yaitu Pangeran Suryawangsa, Pangeran Suryaganggawangsa dan Pangeran Aria Dewangsa. Keturunan mereka ini menjadi Raja-raja Banjar . berikut urutan Raja-raja Banjar:
1.      Raja Banjar I Pangeran Suryanata suami Putri Junjung Buih. Ibukota kerajaan terletak di Negara Dipa (sekarang Margasari), dengan bandar pelabuhan di Pebaungan.
2.      Raja Banjar II Pangeran Suryagangga pusat pemerintahan tetap di Margasari.
3.      Raja Banjar III putri Kalungsu dan urusan pemerintahan dipegang oleh Mangubumi Lambung Mangkurat, pusat kerajaan dipindahkan ke Negara Daha (Negara sekarang) juga di tepi Sungai Negara, dengan pelabuhan utama di Kota Arya Teranggana Muara Bahan (Marabahan sekarang).
4.      Raja Banjar IV Pangeran Sekar Sungsung bergelar Maharaja Sari Kaburangan ibukota kerajaan tetap di Negara Daha tepi Sungai Negara.
5.      Raja Banjar V Pangeran Sukarama pusat kerajaan tetap di tepi Sungai Negara.
6.      Raja Banjar VI Pangeran Mangkubumi, Raja ini kemudian dibunuh oleh pengawal istana atas suruhan Pangeran Tumenggung adik Mangkubumi sendiri. Pusat kerajaan tetap di tepi Sungai Negara.
7.      Raja Banjar VII Pangeran Tumengung. Pusat pemerintahan dipindahkan ke Danau Panggang Amuntai.





Putri Junjung Buih
Namanya Melegenda
 Nama Ratu atau Putri Junjung Buih juga begitu terkenal di Kalimantan Selatan . Ada hotel Junjung Buih , Plaza Junjung Buih , Rumah Sakit Junjung Buih , Kompleks Perumahan Junjung Buih jalan Junjung Buih dan sebagainya.
Buih dalam bahsa Indonesia dan Banjar artinya ombak, bagian air paling atas. Ketika air berputar-putar dalam pusarannya, maka semakin banyak buih yang muncul. Putri Junjung Buih artinya putri yang keluar atau muncul dari buih. Putri ini dipercayai sebagai penjelma Dewata. Tempat munculnya Putri Junjung Buih ini selanjutnya dinamai dengan Teluk Buih, yang terletak di dekat desa Kuripan Barito Kuala.
Kehadiran Putri Junjung Buih, (ada yang menyebutnyaPutri Tanjung Buih) berasal dari kepercayaan bahwa ia merupakan makhluk gaib yang muncul dari buih, yang kemudian dicarikan suaminya dari Majapahit yaitu Pangeran Suryanata.
Menurut HM Said (2011), sebenarnya ada versi lain yang menyatakan bahwa Putri Junjung Buih adalah manusia biasa. Ia bernama Galuh Ciptasari dan tinggal bersama ibu angkatnya di daerah Balangan atau Gunung Batu Piring. Suatu kali ia mandi di sungai lalu tergelincir dan hanyut terbawa arus sungai yang deras. Selanjutnya ia diselamatkan dan ditemukan oleh Lambung Mangkurat yang sedang bersemedi di tepi sungai, yang melihat putri itu timbul tenggelam di atas buih.
Namun agar lebih dramatis dan dikagumi rakyat di zaman itu maka disebutlah bahwa putri itu adalah putri gaib yang muncul dari buih. Masyarakat Banjar kala itu (bahkan mungkin hingga sekarang) memang menyukai yang aneh-aneh dan supernatural (gaib). Mreka kurang tertarik dengan hal-hal yang biasa dan natural. Yang jelas putri itu seorang gadis yang cantik, yang bagi Lambung Mangkurat cocok untuk dicarikan jodohnya dari Majapahit. Maka sebelum ke Majapahit putri ini lebih dulu diangkat sebagai raja putri atau ratu di Negara Dipa.

Peristiwa berdarah
Lambung Mangkurat tidak mau gadis cantik ini disunnting oleh rakyat biasa, bahkan oleh keluarga dekatnya sekali pun. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan bahwa rakyat jelata tidak berhak menjadi raja. Bahwa raja harus berasal dari kasta Ksatria yang kala itu hanya ada di Majapahit. Kepercayaan itulah yang bagi kerajaan Banjar masa-masa awal justru membawa malapetaka atau tragedi berdarah di lingkungan kluarga Mpu Jatmika.
Sebagaimana disebutkan di muka, Lambung Mangkurat memiliki dua orang kkeponakan,yaitu Bambang Sukmaraga dan Bambang Padmaraga (versi lain ditulis Bangbang). Keduanya adalah putra kembar Mpu Mandastana, mereka pemuda tampan yang sebenarnya memiliki prospek cerah untuk memimpin Kerajaan Negara Dipa.
Karena kedua pemuda ini mecintai Putri Junjung Buih yang cantik, Lambung Mangkurat menjadi cemburu dan murka. Dengan siasat mengajak keduanya memancing, lantas kedua pemuda itu dibunuh. Tempat pembunuhan itu sekarang disebut Lubuk Badangsanak. Ada kepercayaan mayt kedua bersaudara itu hilang lenyap nersemayam di Gunung Arga Kencana..
Mpu Mandastana dan istrinya sangat marah bercampur sedih tetapi tidak kuasa melawan. Akhirnya suami istri ini memilih untuk mati bunuh diri. Mpu Manndastana menikam dirinya dengan keris Perang Sari bikinan Majapahit, dan sang istri menikam dirinya dengan keris bernama Lading Malela yang berasal dari Keling.
Maka jadilah tempat mereka bunuh diri itu disebut Telaga Darah , atau Telaga Raha, yang kini situasinya masih ada dilingkungan Candi Agung muntai. Suami istri itu dianggap keramat, sehingga burung-burung yang terbang dia atas mayat merreka (sebelum dilarung kelaut) gugur berjatuhan.
Karena kecantikan Junjung Buih, maka tidak saja Bambang Padmaraga dan Bambang Sukmaraga yang jatuh cinta, tetapi banyak pemuda lain dari kalangan masyarakat umum yang menaruh hati dan ingin mempersunting Junjung Buih.

Berbagai perlombaan
Menurut Ketua Palangan Negara di Banjarmasin Lambran Ladjim (alm), ketika ia kecil dulu di Negara ( Daha), ada cerita rakyat bahwa Putri Junjung Buih nan cantik itu hidup dalam pingitan kluarga Mpu Jatmika. Mengingat banyakanya pemuda yang menaksir, dan agar tidk mengecewakan mereka,,maka dilakukan perlombaan, bahwa barang siapa pemuda yag memiliki banyak keahlian berhak mempersunting Putri Junjung Buih. Syaratya, mereka harus mampu membuat kue yang enak-enak sebanyak 41 macam, dan memiliki keterampilan sebanyak 41 macam pula.. maka para pemuda pun berlomba-lomba berlatih , berkreasi dan membuat berbagai keahlian. Banyak nya kue dan kuliner khas Banjar sekarang, yang biasanya bermunculan di bulan Ramadhan, diduga produk dari kreasi dalam perlombbaan tersebut.
Begitu juga banyaknya keterampilan yang dimiliki oleh orang Negara (Daha) seperti keahlian membuat dapur dari tanah liat, alat-alat dapur (memasak), alat-alat pertukangan, pertanian, baling-baling (roda) kapal/klotok dari alumunium dan kuningan, berbagai senjata tajam (pandai besi), membuat kapal dan klotok dari kayu,ulin dan besi, kerajinan emas (kemasan), perak dan tembaga, kopiah jangang, anyam-anyaman, sampai kepada membuat senapan, , diduga hasil dari perlombaanuntuk menyunting Putri Junjung Buih.
Tetapi menurut Djantera Kawi (2011), keterampilan mengolah besi,alumunium,kuningan,dan berbagai logam lainnya pada masyarakat Negara itu,   karena raja-raja Negara Dipa dan Negara Daha pernah mendatangkan para pengrajin logam dari . Mulanya mereka diberi tugas mengubah patunng-patung sesembahan yang assalnya terbuat dari kayu ulin tau kayu cendana diganti menjadi kunngan, sehinngga lebih artistik. Lama kelamaan, mereka ini juga mengerjakan kerajinan lain dari logam.
Menurut Lambran Ladjim, meskipun banyak pemuda ikut berlomba dengan sekuat tenaga, tetap saja tidak ada pemuda yang berhak menyunting sang putri. Penyebab nya, Lambung Mangkurat memang ingin mengawinkannya dengan putra dari Majapahit, yaitu Pangeran Suryanata yang dipercaya berasal dari matahari (surya) dan merupakan titisan Dewata. Mengingat Putri Junjung Buih (air) dipercaya juga merupakan titisan Dewata, maka pasangannya harus sama. Matahari dan air merupakan pasangan khusus, dari keturunan merekalah kemudian lahir para raja dan sultan Banjar.
Kepercayaan ini menjadikan masyarakat Banjar saat itu sangat feodalistik dan petarnilistik. Orang awam/biasa di Kerajaan Banjar kadang-kadang disebut jaba, tidak berani untuk berkuasa bahkan sekedar mengimpikan pun tak berani. Hal itu berbeda dengan tradisi jawa, yang walaupun feodalistik, namun di masa itu rakyat jelata pun ada yang mampu menjadi raja. Sebagai misal, Ken Arok , mulanya hanya orang biasa, bahkan seorang penjahat, tetapi karena nekad,cerdik,licik dan gigih berusaha, akhirnya ia mampu berkuasa dan menjadi raja Sigosari.
 Batung Batulis
Wikipedia menerangkan, putri Junjung Buih sebagai seorang Raja Puteri dari Kerajaan Dipa berasal dari unsur etnis pribumi Kalimantan kerajaan-kerajaan di Kalimantan biasanya mengaku sebagai keturunan dari puteri pribumi ini. Puteri Junjung Buih merupakan anak dari Ngabehi Hileer dan anak angkat Lambung Mangkurat. Pernikahan dengan Pangeran Suryanata dari Majapahit menurunkan raja-raja dari Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Negara Diha hingga Kesultanan Banjar dan Kesultanan Kotawaringin.
Ketokohan Putri Junjung Buih tidak hanya di Kalimantan Selatan. Menurut mitologi rakya pesisir Kalimantan seorang raja haruslah keturunan raja peteri ini sehingga raja-raja Kalimantan mengaku sebagai keturunan Puteri Junjung Buih. Beberapa kerajaan di Kalimantan Barat juga mengaku sebagai keturunan Puteri Junjung Buih. Dalam tradisi Kerajaan Kutai, Puteri Junjung Buih / Putri junjung Buyah merupakan isteri kedua dari Aji BataraAgung Dewa Sakti Raja Kutai Kartanegara I.
Penamaan tempat yang ada kaitannya dengan Puteri Junjung Buih adalah Batung Batulis dan Pembalah Batung.
Diceritakan oleh Rustam Effendi (2011) bahwa ketika Lambung Mangkuratmenngajak Putri Junjung Buih untuk naik ke darat, sang putri menolak. Ia lebih dahulu minta dibangunkan balai (rumah suci) yang terbuat dari batung bertulis(bertulis). Maka Lambung Mangkurat beserta rakyat mengerahkan tenaga untuk mencari pohon batung bertulistersebut. Ternyata adanya di hutan gunung Batu Piring Balangan. Tetapi pohon itu dijaga oleh dua orang raksasa yang ganas.

Lambung Mangkurat menugskan Patih Pembalah Batung seorang yang sakti dan berani untuk mengatasinya. Maka sang patih pun berkelahi dan akhirnya berhasil mengalahkan kedua raksasa untuk selanjutnya membawa batung batulis ke Kuripan ibukota Negara Dipa guna membangun rumah suci bagi Putri Junjung Buih. Untuk mengenang peristiwa ini,belakangan dibangun hotel di Banjarmasin dan Banjarbaru dengan nama Hotel Batung Batulis, dan di Amuntai ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara diabadikan menjadi nama RSUD Pembalah Batung.

Komentar

Posting Komentar